Pembangunan Gedung MTA cab. tembalang

Ditulis Juni 6, 2010 oleh mtacabangtembalang
Kategori: Uncategorized

Pembangunan Gedung MTA cab.Tembalang











Setelah selesai pembayaran tanah dan bangunan pengurus berencana melanjutkan ke pembangunan gedung yang sesuai dengan ruangan pengajian. Pada mulanya yang dibeli adalah rumah penduduk dengan ukuran 36, namun karena kondisi dinding, lantai, atap maupun ruangan tidak layak huni maka gedung tersebut dirobohkan sedikit demi sedikit. Pembangunan awal adalah tanah kosong di bagian belakang rumah/gedung lama seluas 7 x 5 dengan dibuat bangunan lantai dua. Pembangunannya sendiri sudah sampai 50%, berikutnya tentu saja merobohkan bangunan induk kemudian diganti dengan bangunan baru yang sudah dipersiapkan gambarnya oleh pengurus. Namun kendala dana tentunya yang dihadapi pengurus. Hingga saat ini dana yang sudah terserap sekitar 80 juta lebih.

ini adalah gambar kondisi gedung lama dan bangunan yang baru sampai tahap 50%

Diposkan oleh Isman Purwanto di 04:47 0 komentar

Senin, 26 April 2010

Pembangunan Jalan Terus

Pembangunan gedung Mta Cabang Tembalang jalan terus walaupun dana tidak teranggar dan tidak ada donatur, memang ada kesanggupan dari beberapa warga jamaah mta tembalang yang menyanggupkan diri untuk iuran bulanan yang jumlahnya kurang lebih 800rb, dengan dana itu maka setiap Minggu diadakan kerja bakti. Memang pembangunan itu tidak ditargetkan kapan jadinya yang penting jalan terus entah kapan selesainya.

3 Besar AntiVirus Lokal Buatan Anak Negri

Indonesia akhir – akhir ini menjadi sorotan dunia Internasional dengan munculnya embong teroris tersohor Nurdin M Top yang sempat meresahkan dunia. Berbagai rentetan bencana Alam yang melanda Negri Tercinta ini serta kontroversi saling Klaim hasil budaya oleh negara tetangga yang ternyata diakui dunia sebagai Kekayaan Negri tercinta Indonesia. Selain hal hal diatas Indonesia juga memiliki banyak prestasi di dunia teknologi terutama di bidang teknologi Informasi yang patut kita banggakan. Misalnya saja konsep VOIP Rakyat yang di gadang gadang oleh pak Onno W Purbo dan teamnya. Serta dikenalkannya WajanBolik ( WokBolik) ke dunia TI Internasional sebagaisolusi perangkat murah untuk koneksi Wireless.

Memang sebenarnya banyak hal yang tidak bisa di remehkan dari Indonesia, misalnya saja soal securitas dalam hal ini AntiVirus Kali ini saya akan sedikit mengulas tentang Antivirus Lokal yang bisa kita jadikan suatu hal yang cukup membanggakan dari bangsa kita. Tercatat lebih
dari 40 Antivirus Lokal yang pernah beredar di Indonesia. Beberapa diantaranya sudah tidak lagi di kembangkan atau bahkan sudah tidak di update lagi. Dan saat ini terdapat 3 AntiVirus lokal yang cukup bagus dan masih terus di kembangkan dan di update secara rutin.

Dan 3 Antivirus karya anak bangsa itu adalah :

PC MEDIA ANTIVIRUS (PCMAV) – ratting ( 8/10 )

* PCMAV adalah AntiVirus Lokal yang terpopuler dan paling banyak digunakan oleh para pengguna komputer di Indonesia.
* PCMAV bisa dikatakan sebagai pelopor AntiVirus Lokal karena merupakan antivirus Indonesia pertama yang diciptakan oleh team antivirus dari Majalah PC Media yang mulai di populerkan padaq awal tahun 2006 dan terus dikembangkan sampai sekarang.
* PCMAV ini bisa di update tiap minggu di situsnya http://www.virusindonesia.com ataupun melalui fasilitas auto Update nya yang sudang mulai dikembangkan.
* Melalui rilis terbarunya PCMAV 2.2 Valkyrie mampu mendeteksi 3.025 virus yang banyak beredar di Indonesia, bahkan dengan menambahkan database virus CLAMAV ( database virus Internasional ) daya deteksi PCMAV bisa lebih ampuh lagi.
* PCMAV Cleanernya mampu membersihkan virus secara tuntas tanpa merusak file yang terinfeksi.
* RealTime Protector ( RTP ) mampu mencegah infeksi virus bahkan dari virus yang belum terdaftar dalam data basenya.
* Rilis terbaru dari PCMAV juga sudah bisa disandingkan dengan antivirus lain tanpa terjadi false alarm ( saya mencobanya dengan AVIRA )
* Kekurangan PCMAV adalah karena masih menggantungkan database untuk proses scanning maka membutuhkan waktu yang cukup lama.

ANSAV / AVI – rating ( 7/10 )

* ANSAV adalah Antivirus lokal Indonesia yang menjadi pesaing PCMAV semenjak dipopulerkan pada Oktober 2006
* Team ANSAV seringkali mengadakan seminar tentang virus dan antivirus di berbagai tempat, oleh karenanya ANSAV ini memiliki komunitas yang cukup besar yang biasa di sebut ANSAVER yang sering berdiskusi di berbagai forum.
* ANSAV memiliki banyak kelebihan dibanding antivirus yang lain. Kemampuanya untuk mendeteksi virus sangat sensitive dan tertanam sempurna pada komputer, akibatnya dimana saja ada akses terhadap file maka ANSAV secara Automatis akan melaukan scanning.
* Kelebihan lain dari ANSAV adalah memiliki Pulg-In (AddOn) yang bisa di kembangkan oleh siapapun untuk menambahkan tool baru pada antivirus ini.
* ANSAV dapat di Update secara rutin melalui situsnya di http://www.ansav.com
* Kekurangan ANSAV adalah tidak mampu membersihkan virus secara tuntas sehingga meninggalkan bekas pada registry.

SMADAV – rating ( 7/10 )

* SMADAV yang mulai muncul pada bulan Maret 2007 ini mulai menunjukkan peningkatan pengguna yang signifikan pada awal tahun 2009. Meski penggunanya belum sebanyak PCMAV dan ANSAV.
* SMADAV memiliki kelebihan pada waktu scanningnya yang sangat cepat serta system proteksinya yang ringan tanpa membutuhkan banyak resource Komputer.
* SMADAV juga dapat di gabungkan secara sempurna dengan AntiVirus lain termasuk antivirus import
* Fitur manualnya memungkinkan kita untuk membersihkan virus secara tuntas pada 1500 area registry walaupun virus belum terdeteksi oleh SMADAV
* Teknik Heuristik yang di milikinya hampir menyerupai fitur RTP pada PCMAV yaitu mampu mengenali virus dan mencegah terjadinya infeksi meskipun virus tersebut belum terdaftar dalam database SMADAV.
* Kekurangan SMADAV adalah masih belum mampu membersihkan virus impor secara tuntas seperti Conficker dan Alman, hanya mampu mencegahnya menginfeksi komputer.
* Dengan berbagai kemampuan yang dimilikinya sepertinya SAMDAV ini akan mampu bersaing jika terus di kembangkan akan berpotensi menjadi antivirus yang handal.
* SMADAV dapat diupdate di http://www.smadav.net

3 Antivirus lokal diatas memiliki kelebihan maupun kekurangan tentunya membutuhkan dukugan kita untuk terus dikembangkan agar mampu menjadi kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia. Dan jika anda pengguna komputer yang ingin komputer anda selamat dari virus, maka berusahalah untuk selalu meng- Update apapun Antivirus yang anda gunakan. Ditulis oleh : Ali Mas’adi blog

Beragam Kisah di Balik Pengajian ahad Pagi

Banyak kisah yang hendak dibagi di balik pengajian ini. Kisah sendu berbalut kebahagiaan yang hakiki. Ditemani oleh semangat juang yang tak pernah pupus oleh apapun jua, entah raga ataupun harta. Karena hanya Dia-lah yang menjadi tujuan manusia hidup di dunia ini.
Yah, pengajian Ahad Pagi, kehadirannya mampu menyedot puluhan ribu orang yang haus akan petunjuk-Nya. Di sinilah, tempat menimba ilmu bagi orang-orang yang merasa lapar akan pengetahuan tentang dienullah (Agama Allah). Entah tua, muda, kalangan bawah hingga atas, sampai berpendidikan tinggi hingga tak berpendidikan sekalipun hadir di sini. Semua duduk bersila sama rata, tak ada yang merasa lebih tinggi satu sama lain.

Layaknya magnet yang mampu menarik kuat-kuat, pengajian Ahad Pagi tak pernah sepi didatangi. Setiap hari Ahad, kajian ini selalu dipenuhi oleh jamaah yang hadir dari berbagai daerah. Tiga lantai selalu sesak oleh mereka yang hendak menuntut ilmu dien. Di lantai dasarpun, tak lagi longgar diduduki.

Jika dibanding dengan keramaian pengunjung Mall di Solo, meski hari libur sekalipun, pengunjung pengajian Ahad Pagi menang jauh. Kenapa? Karena para pengunjung di pengajian ini telah tahu dan paham jika harta dan jiwanya telah dibeli oleh Allah. “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka…” (QS At taubah 111)

Yah, karena merasa telah dibeli oleh Allah itulah, mereka tak segan-segan mengorbankan harta dan jiwa demi mengharap ridha-Nya. Mereka percaya akan janji Allah, karena Dia tak pernah memungkiri janji-Nya. Sebagaimana Allah menjelaskan dalam kelanjutan dari ayat di atas, “…Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”

Jarak yang jauh sekalipun tak menjadi soal. Terbatas masalah kendaraan, sampai harus berganti-ganti bus, tak menjadi halangan. Bahkan, berjalan pun tak goyah dilalui. Semua dilakukan, karena merengkuh cahaya-Nya teramat indah untuk didaki. Yah, hanya menuntut ilmu agama Allah-lah mereka akan menemukan cahaya itu, mengeluarkan dari gelap menuju terang. Mengkaji Islam berdasar Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Allah telah menjelaskan itu dalam QS Al Maidah 16, “Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”

Banyak Rintangan

Dicerca, dikucilkan atau bahkan diusir dari kampungnya, sudah menjadi kisah klise ketika seseorang mendengarkan pengajian Ahad Pagi, entah melalui radio atau datang langsung. Menjadi klise, karena perlakuan orang-orang yang belum atau tidak mau memahami ayat-ayat-Nya ini memang sudah ada sejak zaman nabi dahulu.
jihadpagi-03
Yang membelalakkan mata ketika mereka harus mendapat tentangan keras dari keluarga mereka sendiri. Suami, istri, orang tua atau bahkan anak menjadi penentang akan jalan Allah yang telah mereka tempuh.
Seperti kisah dari dua orang ibu yang berasal dari Wonogiri. Karena mendapat tentangan dari suami mereka, sampai-sampai mereka harus diam-diam mengikuti kajian Ahad Pagi tanpa sepengetahuan dari suami mereka.

Hal senada juga mendera seorang ibu yang berasal dari salah satu daerah di Jawa Timur. Datang bersama tiga putrinya tanpa didampingi suami. Karena tidak ada biaya, ibu ini rela datang sehari sebelumnya dengan menaiki kereta secara gratis. Begitu mendramatisirnya kala itu, ketika ia hendak berangkat menaiki kereta. Barang bawaannya disita oleh suami. Namun, karena kereta akan segera berangkat, ibu ini harus rela tidak membawa serta barang bawaannya.
Tiba di Solo sudah larut malam, pukul 22.00 WIB. Dan mereka pun bermalam di gedung MTA Mangkunegaran. Ini dilakukan hanya untuk mengkaji agama Allah. Subhanallah.

Rupanya, ditentang oleh keluarga sendiri sudah menjadi hal biasa jika seseorang hendak menjalankan Islam yang sesuai tuntunan. Kisah dari seorang bapak berinisial S juga tak kalah “elok” dari mereka. Bayangkan, untuk menjalankan syariah Islam, ia harus mendapat tentangan dari istri sendiri. Istri yang seharusnya bisa dipimpin ke jalan yang diridhai Allah justru memberontak dan bahkan menentang keras jalan yang telah ditempuh suaminya itu. Na’udzubillah.
Kisah-kisah di atas hanyalah sebagian kisah dari banyaknya kisah-kisah lain dari para jamaah yang hadir di pengajian Ahad Pagi. Banyak rintangan yang harus mereka lalui. Dan rintangan itu teramat pahit dijalani. Namun, inilah ujian dari Allah bagi orang-orang yang beriman.

Allah berfirman, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS At Taubah 16)

Insafnya para Mantan

jihadpagi-02Pengajian Ahad Pagi banyak dihadiri oleh para mantan, bukan mantan da’i atau ulama, melainkan mantan preman, copet, penjudi bahkan dukun santet pun bisa insaf karena hidayah-Nya yang datang melalui pengajian ini. Berawal dari mendengarkan radio secara tidak sengaja, Allah telah mencerahkan pemikiran mereka akan kehidupan kelam yang telah menjeratnya.

Islam telah mengembalikan mereka ke jalan yang terang. Biarpun berpredikat sebagai mantan preman, copet, penjudi, dukun santet dan lain sebagainya tidak membuat mereka berkecil hati akan komentar sinis dari orang. Toh, itu hanyalah mantan, yang mana hanya menjadi masa lalu lantaran karena jahilnya mereka tentang Islam yang sebenarnya.

Bukankah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang? Allah mengampuni siapa saja orang-orang yang bertaubat kepada-Nya sebagaimana dalam firman-Nya, “Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nahl 119)

Mereka tak patah arang. Kehidupan kelam yang pernah mereka jalani dijadikan sebagai pelajaran untuk memulai hidup lebih baik lagi. Memulai hidup lebih baik dengan mengkaji agama Islam secara kaffah. Dengan mengkaji inilah, petunjuk-Nya akan senantiasa datang, hingga mereka menjadi hamba-hamba yang dipilih-Nya untuk menempati syurga yang telah dijanjikan-Nya.

Semangat Mereka Luar Biasa

jihadpagi-04Tak hanya banyak rintangan dan dipenuhi oleh para mantan, pengajian Ahad Pagi rupanya memberikan semangat luar biasa bagi mereka yang berusia lanjut. Kegigihan sepasang suami istri yang berusia tujuh puluh tahun ini patut diacungi jempol.

Pagi buta, sebelum adzan shubuh berkumandang, mereka berangkat dari Ngawi menuju Solo, tempat pengajian Ahad Pagi, dengan menggunakan bus jurusan Surabaya-Jogja. Bagi mereka, hadir di pengajian ini sudah menjadi rutinitas yang harus mereka lakukan di hari Ahad. Meski jarak antara Ngawi-Solo tak terbilang dekat, tetap tak menghalagi mereka untuk selalu hadir di pengajian ini.

Usia yang tak lagi muda, tak memupuskan semangat mereka. Turun di Tirtomoyo, Solo, mereka naik bus menuju Singosaren. Ketika sampai di Singosaren, mereka berjalan kaki menuju gedung MTA Mangkunegaran. Subhanallah, begitu ringannya mereka berjalan. Tak terbesit di benak mereka akan rasa lelah. Padahal, jika ditempuh dengan berjalan kaki, jarak Singosaren dengan tempat kajian lumayan menyortir energi.
Rupanya semangat sepasang suami istri dari Ngawi tersebut juga dimiliki oleh dua orang sahabat yang sudah menginjak usia lanjut. Sama-sama berasal dari Ngawi, mereka dengan tangkas berjalan seperti halnya yang ditempuh oleh sepasang suami istri itu.

Contoh lain, bisa dilihat dari tekad kuat sang nenek berusia delapan puluh tahun. Nenek yang berasal dari Karanganom, Klaten ini rela datang ke pengajian Ahad Pagi sendirian tanpa didampingi sanak keluarga. Ia datang dengan menaiki bus.
Subhanallah, semangat mereka untuk mengkaji agama Allah memang luar biasa. Seolah mereka tak sadar akan usia senja yang telah disandangnya. Gesit mereka memperjuangkan perwujudan iman.

Bagaimanapun, ilmu agama lebih mulia dicari ketimbang urusan dunia. Karena mereka tahu, bahwa kesenangan dunia ini hanyalah sementara. Pesonanya tak lain hanyalah merupakan tipuan. Tak ada yang lebih diutamakan dibanding akhirat. Akhiratlah yang menjadi prioritas hidup ini. Karena di akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya.

Bahkan Allah berfirman, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al An’aam 32)
Dunia ini hanyalah main-main dan sendau gurau belaka. Alangkah bodohnya manusia jika semasa hidupnya hanya digunakan untuk hura-hura di dunia. Usia yang sudah ‘bau tanah’ sekalipun tak dimanfaatkan dengan baik untuk beribadah. Betapa orang-orang seperti ini akan mendapat kerugian yang besar.

Allah berfirman, “Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebathilan.” (QS Ath Thuur 11-12)

Lantas, apakah ini mencerminkan agama hanya ditekankan bagi mereka yang sudah memasuki usia senja? Begitu banyaknya jamaah pengajian Ahad Pagi yang berusia tua, seolah-olah menjadikan persepsi bahwa agama itu hanya untuk orang tua saja. Orang tua yang membutuhkan agama, sedang orang muda berpikir belum saatnya karena mereka mengira usianya masih panjang. Alangkah sempitnya jika pemikiran seperti ini merajai kaum muda.

Bukankah masa muda adalah masa produktif untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik? Kenapa justru masa produktif itu tidak dimanfaatkan untuk memperjuangkan agama Allah? Sebaliknya, masa produktif justru dihabiskan untuk hal-hal yang sia-sia hingga berujung pada kemaksiatan. Nau’dzubillah.

Bukankah kisah dari mereka yang telah menginjak usia senja tersebut patut kita contoh? Tidak iri kah kita dengan semangat mereka yang berjiwa muda meskipun raga sudah tak lagi muda?

Inilah beragam kisah di balik kajian Ahad Pagi, beragam kisah yang datang dari para jamaah yang hadir di pengajian ini. Subhanallah, betapa hidayah-Nya telah mengantarkan mereka pada titik perjuangan pencapaian iman dan takwa kepada-Nya. Kisah dari mereka patut kita jadikan teladan. Semoga ke depan kita semua semakin istiqomah di jalan-Nya. (ntz)

Sumber Gambar : MTATV.COM

Diposkan oleh Isman Purwanto di 15:56 0 komentar

Kamis, 31 Desember 2009

TAHUN BARU dalam pandangan Syariat Islam

Moment pergantian tahun begitu sangat dinantikan oleh setiap orang.
Tak jarang diantara mereka yang menyambutnya dengan berpesta ria, meniup
terompet didetik-detik terakhir pergantian tahun dan lain-lain. Seakan moment
tahun baru merupakan moment istimewa yang tak boleh terlewatkan.
Lalu, bagaimana pandangan menurut kaca mata syar’I dalam hal ini ?
Benarkah tahun baru harus kita sambut dengan sepecial? Semisal saling
mengucapkan ucapan selamat, lewat lisan atau tulisan yang kita tulis di kartu
ucapan tahun baru. Sedemikian istimewakah makna tahun baru bagi umat manusia?
Coba perhatikan pernyataan Al
Imam Ibnu Tammiyah radhiaallahu anhu. “ Adapun mengucapkan selamat terhadap
syiar-syiar keagamaan orang-orang kafir yang khusus bagi mereka, maka hukumnya
haram menurut kesepakatan para ulama, seperti mengucapkan selamat terhadap
hari-hari besar mereka dan puasa mereka, seperti mengucapkan ‘ semoga hari
besar ini diberkahi atau ucapan semisalnya dalam rangka hari besar tersebut…”
Sedang Umar bin Khatab ra berkata, terkait dengan momentum tahun baru
Masehi atau hari-hari besar lain yang merupakan hari-hari besar orang-orang
Yahudi dan Nasrani. “ Janganlah kalian mengunjungi kaum Musyrikin di
gereja-gereja ( rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka, karena
sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka” (HR. Al Baihaqi, no:18640)
“ Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka” (
HR.Ibid. no:18641)
Dari kedua hadist tersebut, jelaslah sudah kalau mengucapkan selamat atau
ikut serta dalam merayakan hari-hari besar kaum musyrikin ( Tahun baru, Natal,
Valentine,dll) hukumnya haram dilakukan oleh umat Islam. Karena moment tahun
baru atau moment-moment lainnya merupakan pencampuradukan antara Al Haq dan
kebathilan. Yang lebih banyak nilai mudharatnya, ketimbang sisi positifnya.
Sebagai umat Islam tentunya kita harus konsekwen terhadap
keyakinan/akidah yang kita anut, karena sesungguhnya merayakan moment tahun
baru itu bukanlah budaya Islam, jadi janganlah sekali-kali terpengaruh dan
mengadopsinya menjadi bagian dari budaya kaum muslimin.
“ Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu
kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri
mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” ( QS. Al-Baqarah:109)
Coba perhatikan ayat tersebut ! Sesungguhnya, moment tahun baru itu salah
satu tipu muslihat orang-orang musyirikin untuk menyesatkan kaum muslimin dari
jalan kebenaran, jalan yang penuh dengan cahaya rahmat dan karunia-Nya. Karena
sejatinya, kaum musyirikin itu mengetahui kalau agama Islam adalah agama yang
rahmatan lil’alamin, sehingga hati mereka menjadi dengki dan berusaha
mengembalikan keyakinan kaum muslimin pada kekafiran agar jauh dari cahaya
Allah.
“ Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang kafir
itu, niscaya mereka akan mengembalikanmu kebelakang ( Kepada kekafiran), lalu
jadilah kamu orang-orang yang merugi.” (QS. Ali Imron:149)
Sahabatku, apakah kita mau menjadi orang-orang yang merugi? Tentunya, tak ada
seorang pun diantara kita yang ingin menjadi orang yang merugi dan amal
ibadahnya tertolak oleh Allah Swt. Kalau demikian, mari bersama-sama bersiaga
dalam menghalau datangnya budaya kaum musyirikin yang mereka proklamirkan lewat
liberalisme, modernitas dan premisivisme budaya.
Pada momentum tahun baru hendaknya kita isi dengan dzikir dan takhmid kepada
Allah, karena ini jauh lebih baik ketimbang merayakannya dengan berpesta pora.
Melakukan taffakur panjang, sangat dianjurkan sebagai bahan renungan dan cermin
terhadap eksistensi kita dalam menjalankan dan menegakan syariat Islam selama
satu tahun. Mencoba mengingat balik amalan ibadah yang telah kita lakukan
selama ini, sudah baikkah kuantitas ibadah kita ? Berapa umur kita sekarang?
Masihkah kita bisa menikmati kehidupan untuk satu tahun yang akan datang?
Karena setiap waktu bergulir, maka jatah hidup kita pun berkurang.
Seperti perkataan Iman Soyfan Tsauri “ Sesungguhnya, aku sangat
menginginkan satu tahun saja dari seluruh usiaku, seperti Ibnu Mubarak. Tapi
aku tak mampu melakukannya, bahkan dalam tiga hari sekalipun.” (Nuzhatul
Fudhala,2/655)
Hidup didunia hanya selayang pandang, ia begitu singkat…sesingkat kilat.
Sehingga kita harus memanfaatkan waktu yang ada dengan sefisien mungkin untuk
beribadah, karena itulah hakikat hidup manusia didunia. Untuk melakukan amal
sholeh dan beribadah kepada Allah Swt.
Bahkan Rasulullah pun bersabda terkait dengan umur manusia. “ Umur umatku
antara 60 sampai 70 tahun” (HR. Turmudzi).
Jadi, mari kita bersama-sama memanfaatkan waktu yang tersisa dan
meningkatkan kuantitas ibadah kita kepada Allah Swt. Menjadikan momentum tahun
baru untuk mengingat mati. Bayangkan…renungkan! Bekal apa yang sudah kita
persiapkan untuk kehidupan diakhirat nanti. Apakah kita akan dimasukan kedalam
golongan yang menempati Surga-Nya, sudah cukupkah bekal kita ?
Sahabatku, selagi masih ada waktu mari kita berbenah diri sebelum semuanya
menjadi terlambat. (Kiku)

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

Diposkan oleh Isman Purwanto di 16:24 0 komentar

Hukum merayakan tahun baru masehi

Hukum merayakan tahun baru masehi
Written by WIDI PUJI HARTADI on December 24, 2009 – 11:41 am

Nah, sebelum membahas lebih lanjut, saya sengaja menempatkan subjudul ini lebih dulu ketimbang tema lain. Iya, ini supaya kita sebagai muslim bisa berhati-hati sebelum melakukan perbuatan. Sebab, berdasarkan kaidah fiqih dalam ajaran agama kita, bahwa hukum asal suatu perbuatan adalah terikat dengan hukum syara (sayriat Islam). Itu sebabnya, sebelum melakukan suatu perbuatan kita harus tahu apakah perbuatan tersebut dihukumi sebagai perbuatan yang dibolehkan, diwajibkan, disunnahkan, diharamkan atau dihukumi sebagai makruh.

Lalu apa hukumnya merayakan tahun baru masehi bagi seorang muslim? Jawaban singkatnya adalah SSTBAH alias sangat sangat tidak boleh alias haram. Titik.

Duh, kok saklek banget sih? Oke, kalo kamu pengen tahu sebabnya, gaulislam mo ngasih bocorannya nih. Bahwa merayakan tahun baru masehi adalah bukan tradisi dari ajaran Islam. Meskipun jutaan atau miliaran umat Islam di dunia ini merayakan tahun baru masehi dengan sukacita dan lupa diri larut dalam gemerlap pesta kembang api atau melibatkan diri dalam hiburan berbalut maksiat tetap aja nggak lantas menjadikan tuh perayaan jadi boleh atau halal. Sebab, ukurannya bukanlah banyak atau sedikitnya yang melakukan, tapi patokannya kepada syariat.Oke?

So, sekadar tahu aja nih, tahun baru masehi itu sebenarnya berhubungan dengan keyakinan agama Nasrani, lho. Masehi kan nama lain dari Isa Almasih dalam keyakinan Nasrani. Sejarahnya gini nih, menurut catatan di Encarta Reference Library Premium 2005, orang pertama yang membuat penanggalan kalender adalah seorang kaisar Romawi yang terkenal bernama Gaisus Julius Caesar. Itu dibuat pada tahun 45 SM jika mengunakan standar tahun yang dihitung mundur dari kelahiran Yesus Kristus.

Tapi pada perkembangannya, ada seorang pendeta Nasrani yang bernama Dionisius yang kemudian ?memanfaatkan’ penemuan kalender dari Julius Caesar ini untuk diadopsi sebagai penanggalan yang didasarkan pada tahun kelahiran Yesus Kristus. Itu sebabnya, penanggalan tahun setelah kelahiran Yesus Kristus diberi tanda AD (bahasa Latin: Anno Domini yang berarti: in the year of our lord) alias Masehi. Sementara untuk jaman prasejarahnya disematkan BC (Before Christ) alias SM (Sebelum Masehi)

Nah, Pope (Paus) Gregory III kemudian memoles kalender yang sebelumnya dengan beberapa modifikasi dan kemudian mengukuhkannya sebagai sistem penanggalan yang harus digunakan oleh seluruh bangsa Eropa, bahkan kini di seluruh negara di dunia dan berlaku umum bagi siapa saja. Kalender Gregorian yang kita kenal sebagai kalender masehi dibuat berdasarkan kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan Nasrani. “The Gregorian calendar is also called the Christian calendar because it uses the birth of Jesus Christ as a starting date.”, demikian keterangan dalam Encarta.

Di jaman Romawi, pesta tahun baru adalah untuk menghormati Dewa Janus (Dewa yang digambarkan bermuka dua-ini bukan munafik maksudnya, tapi merupakan Dewa pintu dan semua permulaan. Jadi mukanya dua: depan dan belakan, depan bisa belakang bisa, kali ye?). Kemudian perayaan ini terus dilestarikan dan menyebar ke Eropa (abad permulaan Masehi). Seiring muncul dan berkembangnya agama Nasrani, akhirnya perayaan ini diwajibkan oleh para pemimpin gereja sebagai satu perayaan “suci” sepaket dengan Natal. Itulah sebabnya mengapa kalo ucapan Natal dan Tahun baru dijadikan satu: Merry Christmas and Happy New Year, gitu lho.

Nah, jadi sangat jelas bahwa apa yang ada saat ini, merayakan tahun baru masehi adalah bukan berasal dari budaya kita, kaum muslimin. Tapi sangat erat dengan keyakinan dan ibadah kaum Nasrani. Jangankan yang udah jelas perayaan keagamaan seperti Natal, yang masih bagian dari ritual mereka seperti tahun baru masehi dan ada hubungannya serta dianggap suci aja udah haram hukumnya dilakukan seorang muslim. Why?

Di antara ayat yang menyebutkan secara khusus larangan menyerupai hari-hari besar mereka adalah firman Allah Swt.: ”

??????????? ??? ??????????? ????????

“Dan orang-orang yang tidak memberikan perasaksian palsu” (QS al-Furqaan [25]: 72)

Ayat ini berkaitan dengan salah satu sifat para hamba Allah yang beriman. Ulama-ulama Salaf seperti Ibnu Sirin, Mujahid dan ar-Rabi’ bin Anas menafsirkan kata “az-Zuura” (di dalam ayat tersebut) sebagai hari-hari besar orang kafir.

Itu artinya, kalo sampe seorang muslim merayakan tahun baru masehi berarti melakukan persaksian palsu terhadap hari-hari besar orang kafir. Naudzubillahi min dzalik. Padahal, kita udah punya hari raya sendiri, sebagaimana dalam hadits yang shahih dari Anas bin Malik ra, dia berkata, saat Rasulullah saw. datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari besar (‘Ied) untuk bermain-main. Lalu beliau bertanya, “Dua hari untuk apa ini?” Mereka menjawab, “Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa jahiliyyah”. Lantas beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya: Iedul Adha dan Iedul Fithri” (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya, No. 11595, 13058, 13210)

Terus, boleh nggak sih kita merayakan tahun baru karena niatnya bukan menghormati kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan agama Nasrani? Ya, sekadar senang-senang aja gitu, sekadar refreshing deh. Hmm.. ada baiknya kamu menyimak ucapan Umar Ibn Khaththab: “Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka” (Dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqy No. 18640) Umar ra. berkata lagi, “Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka” (ibid, No. 18641) Dalam keterangan lain, seperti dari Abdullah bin Amr bin al-Ash ra, dia berkata, “Barangsiapa yang berdiam di negeri-negeri orang asing, lalu membuat tahun baru dan festival seperti mereka serta menyerupai mereka hingga dia mati dalam kondisi demikian, maka kelak dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka” (‘Aun al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Syarh hadits no. 3512)

Nah, berkaitan dengan larangan menyerupai suatu kaum (baik ibadahnya, adat-istiadanya, juga gaya hidupnya), Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR Imam Ahmad dalam Musnad-nya jilid II, hlm. 50)

At-Tasyabbuh secara bahasa diambil dari kata al-musyabahah yang berarti meniru atau mencontoh, menjalin atau mengaitkan diri, dan mengikuti. At-Tasybih berarti peniruan. Dan mutasyabihah berarti mutamatsilat (serupa). Dikatakan artinya serupa dengannya, meniru dan mengikutinya.

Tasyabbuh yang dilarang dalam al-Quran dan as-Sunnah secara syar’i adalah menyerupai orang-orang kafir dalam segala bentuk dan sifatnya, baik dalam aqidah, peribadatan, kebudayaan, atau dalam pola tingkah laku yang menunjukkan ciri khas mereka. Hmm.. catet ye!

Tahun baru, dosa baru?

Waduh, masa’ sih kita memulai bilangan tahun dengan dosa baru? Apalagi untuk dosa lama aja kita belum pernah melakukan tobatnya, tapi udah bikin dosa baru. Keterlaluan abis deh kalo sampe punya cita-cita seperti itu. Tapi kenyataannya, ternyata banyak di antara kita yang malah merayakan tahun baru masehi dengan melakukan aktivitas maksiat. Kasihan deh!

Boys and gals, sebenarnya dalam pandangan Islam, untuk mengevaluasi diri selama ini udah ada tuntunannya dalam al-Quran, sebagaimana firman Allah Swt. (yang artinya): “Demi Waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS al-Ashr [103] 1-3)

Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.” (HR Ahmad)

Orang yang pasti beruntung adalah orang yang mencari kebenaran, orang yang mengamalkan kebenaran, orang yang mendakwahkan kebenaran dan orang yang sabar dalam menegakan kebenaran. Mengatur waktu dengan baik agar tidak sia-sia adalah dengan mengetahui dan memetakan, mana yang wajib, sunah, haram, mana yang makruh, en mana yang mubah. Intinya kudu taat sama syariat Islam.

Itu artinya perubahan waktu ini harusnya kita jadikan momentum (saat yang tepat) untuk mengevaluasi diri. Jangan malah hura-hura bergelimang kesenangan di malam tahun baru masehi. Sudahlah merayakannya haram, eh, caranya maksiat pula. Halah, apa itu nggak dobel-dobel dosanya? Naudzubillahi min dzalik!

Sobat muda muslim, nggak baik hura-hura, lho. Hindari deh ya. Jangan sampe lupa diri. Itu sebabnya, Rasulullah saw. mewanti-wanti tentang dua hal yang bikin manusia tuh lupa diri. Sabda beliau saw.: “Ada dua nikmat, dimana manusia banyak tertipu di dalamnya; kesehatan dan kesempatan.” (HR Bukhari)

Nggak baik kalo kita nyesel seumur-umur akibat kita menzalimi diri sendiri. Sebab, kita nggak bakalan diberi kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertobat, bila kita udah meninggalkan dunia ini. Firman Allah Swt.:

???????????? ??? ???????? ????????? ???????? ?????????????? ????? ???? ???????????????

“Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi.” (QS ar-R?m [30]: 57)

Jadi, nggak usah deh kita ikutan heboh merayakan tahun baru masehi. Kita evaluasi diri, dan itu dilakukan setiap hari biar lebih seru. Jangan nunggu pergantian tahun baru masehi, entar tobat belum eh udah mati duluan. Rugi berat! Yuk kita tingkatin terus amal baik kita, jangan cuma menumpuk dosa. Hari demi hari harus lebih baik. Yup, mari mulai sekarang juga untuk evaluasi diri. Are you ready?

SUMBER:

[solihin: sholihin@gmx.net]

TAHLIL DALAM TIMBANGAN ISLAM

Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Qur’an dan mengutus Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai penjelas dan pembimbing untuk memahami Al Qur’an tersebut sehingga menjadi petunjuk bagi umat manusia. Semoga Allah subhanahu wata’ala mencurahkan hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua, sehingga dapat membuka mata hati kita untuk senantiasa menerima kebenaran hakiki.

Telah kita maklumi bersama bahwa acara tahlilan merupakan upacara ritual seremonial yang biasa dilakukan oleh keumuman masyarakat Indonesia untuk memperingati hari kematian. Secara bersama-sama, berkumpul sanak keluarga, handai taulan, beserta masyarakat sekitarnya, membaca beberapa ayat Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan disertai do’a-do’a tertentu untuk dikirimkan kepada si mayit. Karena dari sekian materi bacaannya terdapat kalimat tahlil yang diulang-ulang (ratusan kali bahkan ada yang sampai ribuan kali), maka acara tersebut dikenal dengan istilah “Tahlilan”.

Acara ini biasanya diselenggarakan setelah selesai proses penguburan (terkadang dilakukan sebelum penguburan mayit), kemudian terus berlangsung setiap hari sampai hari ketujuh. Lalu diselenggarakan kembali pada hari ke 40 dan ke 100. Untuk selanjutnya acara tersebut diadakan tiap tahun dari hari kematian si mayit, walaupun terkadang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya.

Tidak lepas pula dalam acara tersebut penjamuan yang disajikan pada tiap kali acara diselenggarakan. Model penyajian hidangan biasanya selalu variatif, tergantung adat yang berjalan di tempat tersebut. Namun pada dasarnya menu hidangan “lebih dari sekedarnya” cenderung mirip menu hidangan yang berbau kemeriahan. Sehingga acara tersebut terkesan pesta kecil-kecilan, memang demikianlah kenyataannya.

Entah telah berapa abad lamanya acara tersebut diselenggarakan, hingga tanpa disadari menjadi suatu kelaziman. Konsekuensinya, bila ada yang tidak menyelenggarakan acara tersebut berarti telah menyalahi adat dan akibatnya ia diasingkan dari masyarakat. Bahkan lebih jauh lagi acara tersebut telah membangun opini muatan hukum yaitu sunnah (baca: “wajib”) untuk dikerjakan dan sebaliknya, bid’ah (hal yang baru dan ajaib) apabila ditinggalkan.

Para pembaca, pembahasan kajian kali ini bukan dimaksudkan untuk menyerang mereka yang suka tahlilan, namun sebagai nasehat untuk kita bersama agar berpikir lebih jernih dan dewasa bahwa kita (umat Islam) memiliki pedoman baku yang telah diyakini keabsahannya yaitu Al Qur’an dan As Sunnah.

Sebenarnya acara tahlilan semacam ini telah lama menjadi pro dan kontra di kalangan umat Islam. Sebagai muslim sejati yang selalu mengedepankan kebenaran, semua pro dan kontra harus dikembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Sikap seperti inilah yang sepatutnya dimiliki oleh setiap insan muslim yang benar-benar beriman kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Bukankah Allah subhanahu wata’ala telah berfirman (artinya):
“Maka jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Ar Rasul (As Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Yang demikian itu lebih utama bagi kalian dan lebih baik akibatnya.” (An Nisaa’: 59)

Historis Upacara Tahlilan
Para pembaca, kalau kita buka catatan sejarah Islam, maka acara ritual tahlilan tidak dijumpai di masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, di masa para sahabatnya ? dan para Tabi’in maupun Tabi’ut tabi’in. Bahkan acara tersebut tidak dikenal pula oleh para Imam-Imam Ahlus Sunnah seperti Al Imam Malik, Abu Hanifah, Asy Syafi’i, Ahmad, dan ulama lainnya yang semasa dengan mereka ataupun sesudah mereka. Lalu dari mana sejarah munculnya acara tahlilan?
Awal mula acara tersebut berasal dari upacara peribadatan (baca: selamatan) nenek moyang bangsa Indonesia yang mayoritasnya beragama Hindu dan Budha. Upacara tersebut sebagai bentuk penghormatan dan mendo’akan orang yang telah meninggalkan dunia yang diselenggarakan pada waktu seperti halnya waktu tahlilan. Namun acara tahlilan secara praktis di lapangan berbeda dengan prosesi selamatan agama lain yaitu dengan cara mengganti dzikir-dzikir dan do’a-do’a ala agama lain dengan bacaan dari Al Qur’an, maupun dzikir-dzikir dan do’a-do’a ala Islam menurut mereka.
Dari aspek historis ini kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya acara tahlilan merupakan adopsi (pengambilan) dan sinkretisasi (pembauran) dengan agama lain.

Tahlilan Dalam Kaca Mata Islam
Acara tahlilan –paling tidak– terfokus pada dua acara yang paling penting yaitu:

Pertama: Pembacaan beberapa ayat/ surat Al Qur’an, dzikir-dzikir dan disertai dengan do’a-do’a tertentu yang ditujukan dan dihadiahkan kepada si mayit.
Kedua: Penyajian hidangan makanan.
Dua hal di atas perlu ditinjau kembali dalam kaca mata Islam, walaupun secara historis acara tahlilan bukan berasal dari ajaran Islam.
Pada dasarnya, pihak yang membolehkan acara tahlilan, mereka tiada memiliki argumentasi (dalih) melainkan satu dalih saja yaitu istihsan (menganggap baiknya suatu amalan) dengan dalil-dalil yang umum sifatnya. Mereka berdalil dengan keumuman ayat atau hadits yang menganjurkan untuk membaca Al Qur’an, berdzikir ataupun berdoa dan menganjurkan pula untuk memuliakan tamu dengan menyajikan hidangan dengan niatan shadaqah.

1. Bacaan Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan do’a-do’a yang ditujukan/ dihadiahkan kepada si mayit.
Memang benar Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganjurkan untuk membaca Al Qur’an, berdzikir dan berdoa. Namun apakah pelaksanaan membaca Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan do’a-do’a diatur sesuai kehendak pribadi dengan menentukan cara, waktu dan jumlah tertentu (yang diistilahkan dengan acara tahlilan) tanpa merujuk praktek dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya bisa dibenarakan?
Kesempurnaan agama Islam merupakan kesepakatan umat Islam semuanya, karena memang telah dinyatakan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama Islam bagi kalian, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian serta Aku ridha Islam menjadi agama kalian.” (Al Maidah: 3)

Juga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

“Tidak ada suatu perkara yang dapat mendekatkan kepada Al Jannah (surga) dan menjauhkan dari An Naar (neraka) kecuali telah dijelaskan kepada kalian semuanya.” (H.R Ath Thabrani)
Ayat dan hadits di atas menjelaskan suatu landasan yang agung yaitu bahwa Islam telah sempurna, tidak butuh ditambah dan dikurangi lagi. Tidak ada suatu ibadah, baik perkataan maupun perbuatan melainkan semuanya telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mendengar berita tentang pernyataan tiga orang, yang pertama menyatakan: “Saya akan shalat tahajjud dan tidak akan tidur malam”, yang kedua menyatakan: “Saya akan bershaum (puasa) dan tidak akan berbuka”, yang terakhir menyatakan: “Saya tidak akan menikah”, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menegur mereka, seraya berkata: “Apa urusan mereka dengan menyatakan seperti itu? Padahal saya bershaum dan saya pun berbuka, saya shalat dan saya pula tidur, dan saya menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukanlah golonganku.” (Muttafaqun alaihi)
Para pembaca, ibadah menurut kaidah Islam tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala kecuali bila memenuhi dua syarat yaitu ikhlas kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala menyatakan dalam Al Qur’an (artinya):
“Dialah Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji siapa diantara kalian yang paling baik amalnya.” (Al Mulk: 2)
Para ulama ahli tafsir menjelaskan makna “yang paling baik amalnya” ialah yang paling ikhlash dan yang paling mencocoki sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Tidak ada seorang pun yang menyatakan shalat itu jelek atau shaum (puasa) itu jelek, bahkan keduanya merupakan ibadah mulia bila dikerjakan sesuai tuntunan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Atas dasar ini, beramal dengan dalih niat baik (istihsan) semata -seperti peristiwa tiga orang didalam hadits tersebut- tanpa mencocoki sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka amalan tersebut tertolak. Simaklah firman Allah subhanahu wata’ala (artinya): “Maukah Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya”. (Al Kahfi: 103-104)
Lebih ditegaskan lagi dalam hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang beramal bukan diatas petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak.” (Muttafaqun alaihi, dari lafazh Muslim)
Atas dasar ini pula lahirlah sebuah kaidah ushul fiqh yang berbunyi:

فَالأَصْلُ فَي الْعِبَادَاتِ البُطْلاَنُ حَتَّى يَقُوْمَ دَلِيْلٌ عَلَى الأَمْرِ

“Hukum asal dari suatu ibadah adalah batal, hingga terdapat dalil (argumen) yang memerintahkannya.”
Maka beribadah dengan dalil istihsan semata tidaklah dibenarkan dalam agama. Karena tidaklah suatu perkara itu teranggap baik melainkan bila Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganggapnya baik dan tidaklah suatu perkara itu teranggap jelek melainkan bila Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganggapnya jelek. Lebih menukik lagi pernyataan dari Al Imam Asy Syafi’I:

مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ

“Barang siapa yang menganggap baik suatu amalan (padahal tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah –pent) berarti dirinya telah menciptakan hukum syara’ (syari’at) sendiri”.
Kalau kita mau mengkaji lebih dalam madzhab Al Imam Asy Syafi’i tentang hukum bacaan Al Qur’an yang dihadiahkan kepada si mayit, beliau diantara ulama yang menyatakan bahwa pahala bacaan Al Qur’an tidak akan sampai kepada si mayit. Beliau berdalil dengan firman Allah subhanahu wata’ala (artinya):
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh (pahala) selain apa yang telah diusahakannya”. (An Najm: 39), (Lihat tafsir Ibnu Katsir 4/329).

2. Penyajian hidangan makanan.
Memang secara sepintas pula, penyajian hidangan untuk para tamu merupakan perkara yang terpuji bahkan dianjurkan sekali didalam agama Islam. Namun manakala penyajian hidangan tersebut dilakukan oleh keluarga si mayit baik untuk sajian tamu undangan tahlilan ataupun yang lainnya, maka memiliki hukum tersendiri. Bukan hanya saja tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahkan perbuatan ini telah melanggar sunnah para sahabatnya radhiallahu ‘anhum. Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu–salah seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam– berkata: “Kami menganggap/ memandang kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh keluarga mayit merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit).” (H.R Ahmad, Ibnu Majah dan lainnya)

Sehingga acara berkumpul di rumah keluarga mayit dan penjamuan hidangan dari keluarga mayit termasuk perbuatan yang dilarang oleh agama menurut pendapat para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para ulama salaf. Lihatlah bagaimana fatwa salah seorang ulama salaf yaitu Al Imam Asy Syafi’i dalam masalah ini. Kami sengaja menukilkan madzhab Al Imam Asy Syafi’i, karena mayoritas kaum muslimin di Indonesia mengaku bermadzhab Syafi’i. Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata dalam salah satu kitabnya yang terkenal yaitu ‘Al Um’ (1/248): “Aku membenci acara berkumpulnya orang (di rumah keluarga mayit –pent) meskipun tidak disertai dengan tangisan. Karena hal itu akan menambah kesedihan dan memberatkan urusan mereka.” (Lihat Ahkamul Jana-iz karya Asy Syaikh Al Albani hal. 211)

Al Imam An Nawawi seorang imam besar dari madzhab Asy Syafi’i setelah menyebutkan perkataan Asy Syafi’i diatas didalam kitabnya Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab 5/279 berkata: “Ini adalah lafadz baliau dalam kitab Al Um, dan inilah yang diikuti oleh murid-murid beliau. Adapun pengarang kitab Al Muhadzdzab (Asy Syirazi) dan lainnya berargumentasi dengan argumen lain yaitu bahwa perbuatan tersebut merupakan perkara yang diada-adakan dalam agama (bid’ah –pent).

Lalu apakah pantas acara tahlilan tersebut dinisbahkan kepada madzhab Al Imam Asy Syafi’i?

Malah yang semestinya, disunnahkan bagi tetangga keluarga mayit yang menghidangkan makanan untuk keluarga mayit, supaya meringankan beban yang mereka alami. Sebagaimana bimbingan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadistnya:

اصْنَعُوا لآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُمْ أَمْرٌ يُشْغِلُهُمْ

“Hidangkanlah makanan buat keluarga Ja’far, Karena telah datang perkara (kematian-pent) yang menyibukkan mereka.” (H.R Abu Dawud, At Tirmidzi dan lainnya)
Mudah-mudahan pembahasan ini bisa memberikan penerangan bagi semua yang menginginkan kebenaran di tengah gelapnya permasalahan. Wallahu ‘a’lam.
http://assalafy.org/artikel.php?kategori=aqidah6

Hello world!

Ditulis Juni 6, 2010 oleh mtacabangtembalang
Kategori: Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!